Kompetensi kepemimpinan pejabat di lingkungan pemerintahan

Kompetensi yang dibangun pada Diklatpim Tk. III adalah kompetensi kepemimpinan taktikal yaitu  kemampuan menjabarkan visi dan misi instansi ke dalam program instansi dan memimpin keberhasilan pelaksanaan program tersebut, yang diindikasikan dengan kemampuan:

1.mengembangkan karakter dan  sikap perilaku integritas sesuai dengan peraturan perundangan dan kemampuan menunjung tinggi etika publik, taat pada nilai-nilai, norma, moralitas dan bertanggungjawab dalam memimpin unit instansinya;

2.menjabarkan visi dan misi instansinya ke dalam program-program instansi..

3.melakukan kolabarasi secara internal dan eksternal dalam mengelola program-program instansi kearah efektifitas dan efisiensi pelaksanaan program.

4.Melakukan inovasi sesuai bidang tugasnya guna mewujudkan program-program instansi yang lebih efektif dan efisien.

5.mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya internal dan eksternal organisasi dalam implementasi strategi kebijakan unit instansinya.

 

Mengapa perlu inovasi ?

Tekanan-tekanan untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin kritis dan untuk mengatasi perubahan dan kompleksitas lingkungan global yang semakin meningkat;

Kebutuhan untuk melaksanakan dan menyediakan pelayanan publik yang lebih berkualitas dengan sumberdaya yang semakin berkurang dan kapasitas operasional yang semakin terbatas;

Kebutuhan untuk membuat lembaga-lembaga pemerintah semakin akuntabel, responsif dan efektif dengan membangun administrasi negara yang lebih berorientasi kepada kepentingan masyarakat;

Kepentingan pemerintah untuk mengembangkan cara-cara yang lebih baik guna menjawab tuntutan masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Apa itu inovasi ?

Inovasi secara umum dipahami sebagai perubahan perilaku.

Inovasi adalah sebuah ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Everett M Rogers).

Inovasi adalah kegiatan yang meliputi seluruh proses menciptakan dan menawarkan jasa atau barang baik yang sifatnya baru, lebih baik atau lebih murah dibandingkan dengan yang tersedia sebelumnya (Business   1000, Glossary).

Sebuah inovasi dapat berupa produk atau jasa yang baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem struktur dan administrasi baru atau rencana baru bagi anggota administrasi   (Fariborz Damanpour).

Ciri-ciri inovasi

  • Keuntungan Relatif (Relative Advantages)

Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih    dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai   kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang   membedakannya dengan yang lain.

  • Kesesuaian (Compatability)

Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat kompatibel atau   kesesuaian dengan inovasi yang digantikannya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta dibuang begitu saja, selain karena faktor biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian dari proses transisi ke inovasi baru.

  • Kerumitan (Complexity)

Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat   kerumitan yang boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan   inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi   menawarkan cara yang lebih baik, maka tingkat kerumitan ini   pada     umumnya tidak menjadi masalah penting.

  • Kemungkinan untuk Dicoba (Triability)

Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti   mempunyai keuntungan atau nilai lebih dibandingkan dengan   inovasi yang   lama. Sehingga sebuah produk inovasi harus   meliwati fase “uji publik”, dimana setiap orang atau pihak   mempunyai   kesempatan untuk menguji kualitas dari sebuah   inovasi.

  • Kemudahan untuk Diamati (Observability)

Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi bagaimana ia bekerja   dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Dengan ciri-ciri sebagaimana disebutkan di atas, sebuah inovasi merupakan cara baru untuk menggantikan cara lama dalam mengerjakan atau memproduksi sesuatu. Namun demikian, inovasi mempunyai dimensi geofisik yang menempatkannya baru pada satu tempat, namun boleh jadi merupakan sesuatu yang lama dan biasa terjadi di tempat lain.

Inovasi di sektor publik

  • Inovasi di sektor publik adalah salah satu jalan atau bahkan breakthrough untuk mengatasi kemacetan dan kebuntuan organisasi di sektor publik.
  • Karakteristik dari sistem di sektor publik yang rigid, kaku dan cenderung status quo harus bisa dicairkan melalui penularan budaya inovasi.
  • Inovasi yang biasanya hanya akrab di lingkungan dinamis seperti di sektor bisnis, perlahan mulai disuntikkan ke lingkungan sektor publik, dan inovasi mulai mendapatkan tempat di sektor publik.
  • Hal ini tidak terlepas dari dinamika eksternal dan tuntutan perubahan yang sedemikian cepat yang terjadi di luar organisasi, di samping perubahan di masyarakat dengan tingkat literasi yang lebih baik, mempunyai kesadaran (awareness) yang lebih baik akan haknya.

Sumber inovasi di sektor publik

Dalam sebuah studi inovasi di sektor publik melalui survai yang dilakukan oleh Borin dalam The Challenge of Innovating in Government tahun 2001 mengindikasikan bahwa:

  • 50% inovasi di sektor publik merupakan inisiatif dari front line staff dan manejer tingkat menengah (middle manager).
  • 70% inovasi yang dihasilkan bukan merupakan respons dari krisis.
  • 60% inovasi melewati batas-batas organisasional (cross cutting organizational boundaries).
  • Inovasi hadir lebih dikarenakan oleh motivasi untuk dikenali atau dihargai (recognition) dan kebanggaan daripada sekedar penghargaan finansial.

Kategori inovasi

    • Incremental innovations – radical innovations

    Inovasi ini berhubungan dengan tingkat keaslian (novelty) dari inovasi   itu   sendiri. Di sektor industri, kebanyakan inovasi bersifat perbaikan   incremental.

    • Top-down innovations – bottom-up innovations

    Ini untuk menjelaskan siapa yang memimpin perubahan perilaku. Top   berarti   manajemen atau organisasi atau hirarki yang lebih tinggi, sedangkan bottom   merujuk pada pekerja atau pegawai pemerintah dan pengambil keputusan pada   tingkat unit (mid-level policy makers).

    • Needs-led innovations and efficiency-led innovations

    Proses inovasi yang diinisiasi telah menyelesaikan permasalahan dalam rangka   meningkatkan efisiensi pelayanan, produk, dan prosedur.

    Proses

    inovasi

  • Sebagaimana sudah diketahui secara luas bahwa sebuah inovasi itu dapat berada dalam range dari yang paling kompleks dan inovasi yang transformatif sampai pada yang hanya sekedar adaptif dan hanya bersifat incremental saja.
  • Sektor publik harus dapat mengambil kesempatan untuk dapat menjadi yang terdepan dan baru kemudian secara terus menerus fokus pada pencapaian.
  • Dalam konteks ini ada 4 (empat) tahapan kunci dalam proses inovasi sektor publik,   yang mana mungkin saja satu sama lainnya tumpang tindih atau bersentuhan dan dalam   durasi yang bervariasi.
  • Secara sederhana proses atau tahapan tersebut dapat disebut sebagai tahapan- tahapan ‘ mengembangkan (develop), ‘mengimplementasikan’ (implement), ‘mengecek” (check),   dan ‘menyesuaikan’ (adjust).